
#MANDAR
Mandi Darah Saya paham, Mandi Darah adalah kata kunci yang paling Anda ingin ketahui di tulisanku ini. Hingga saya menuliskan sub-tittle ini di penghujung artikel humaniora ini. Kalimat ‘heroik’ ini adalah akronim dari kata Mandar (Mandi Darah). Sangat ironik sebetulnya, ‘mandi darah’ itu simbol kekerasan yang pernah terjadi di tempat kelahiranku -yang kubanggakan ini- dekade 50 an sampai dekade 80 an. Jaman ‘primitif’ itu amatlah disayangkan, di mana pertarungan antar keluarga kerap terjadi, demi gengsi keluarga (siriq), mengutus seseorang untuk menantang satu keluarga dan mengundangnya di suatu area yang telah disepakati untuk unjuk harga diri, uji keberanian, sekaligus uji nekat dalam sabungan nyawa dan tikam-tikaman dalam satu sarung. Duel Maut pun, tak jarang dihelat, bak Hector Vs Archiles dalam legenda Troy, Yunani. Kala duel dua manusia Mandar, tatapan mata yang garang, langkah kaki yang penuh muslihat, ayunan pedang Mandar mendesing, gemerincing saat berbenturan dengan tombak Mandar yang terkenal mematikan itu. Penonton dari dua kubu, kadang memejamkan matanya saat sabetan pedang merobek pakaian sang petarung namun tiada yang terluka. Berjam-jam pertarungan ini, entah kapan memasuki ronde terakhir. Adajiwa satria di sana, sebab yang gugur dalam pertarungan itu, jenasah diperlakukan baik-baik, dipulangkan ke rumahnya dengan penuh penghormatan. Exactly, ‘budaya’ violensi ini barulah terkikis saat orang-orang Mandar bertobat, intropeksi sejarah, reparasi kultur dan anak-anak Mandar kala itu, berikrar agar generasi berikutnya tak lagi memakai semboyan ‘mematikan’ itu. Semboyan Mandi Darah yang minim masa depan, absurd dan pembodohan zaman dan manusianya. Hingga, haluan budayapun digeser, dan anak-anak Mandar pun, keluar dari persembunyian budayanya untuk pergi ke ‘negeri’ orang menuntut ilmu dengan sabar, serta uletnya dengan motto kuat dari orangtua yang sangat familiar, heroik dan populer, di Tanah Mandar: “Maumi na reppo arriang sapo, mua massikola bhandi ana’u” (Artinya: Biarlah tiang rumahku berpatah-patahan, asalkan anakku mengenyam pendidikan). Kala itu, anak-anak muda Mandar menyabung nyawa dan mengais ilmu, dipermula dari Makassar hingga Jogjakarta, Jakarta hingga United States of America. Dan semua telah berakhir manis, sebab umbaran mandi darah tiada pernah tergaung lagi di daratan dan di lautan Mandar, tanah kelahiranku.