
tak jarang dalam diri pribadi seringkali tenggelam menjalani atau meratapi alur kehidupan yang “semrawut” ini, mengapa saya katakan semrawut sebab terkadang dalam diri ini merasa kepikiran bahwa apa-apa yang telah saya jalani selama ini hampir atau mungkin tidak ada yang berarti, yang benar-benar dapat merubah atau menciptakan gairah hidup yang baik bagi diriku
memang jika berkata jujur saya merasa sudah ada dan pasti ada yang berubah dalam diri ini baik itu bentuk fisik tentu saja dan kebiasaan-kebiasaan yang sedikit mengalami perubahan mengikuti usia yang lebih, dalam tanda kutip “dewasa”.
tentu semakin tua umur atau dewasa seseorang ya… walupun umur tak menjamin kedewasaan (berpikir) pastinya akan ada hal-hal yang dulunya dianggap sepele atau biasa saja justru bisa menjadi penentu akan seperti apa kita kedepannya?dan bagaimana kita kedepannya? istilah kerennya “butterfly effect”.
alur-alur menuju tahap kedewasaan memang bagi sebagian orang menjadi momok menakutkan apalagi jika kondisi anda dari awal memang sudah jadi tanda tanya, dalam artian sulit menebak dunia akan mengarahkan saya kemana membawa kita makin jatuh ke alam halusinasi (khayal)
dunia sudah diset sedemikian rupa dan membentuk kita jadi sosok yang seperti yang kita tahu sekarang, lewat banyaknya sandiwara-sandiwara yang diilustrasikan Tuhan pada segala makhluk hidup digalaksi ini dan tidak ada yang berani melawan sebab tidak adanya kesempatan buat memilih, jangankan kesempatan pilihan sajapun tidak ada
Kembali mengenai judul diatas bahwa dunia hanya sebatas panggung sandiwara tidak lebih dan tidak kurang dan menjadikan kita semua hidup dalam kepura-puraan melihat pertunjukan duniawi yang sangat kompleks terjadi disekitar kita terus menerus sampai habis masanya
dan memang seperti inilah cara kerja dunia, tanpa ada pertunjukan lakon maka tidak akan ada kejadian yang bisa diceritakan pada setiap jejak-jejak peradaban-peradaban homo sapiens selanjutnya
meskipun abad ini dunia sudah masuk diera modern, era dimana teknologi AI semakin masif digunakan tetap saja akan sulit menjabarkan itu semua dan bukannya akan semakin dekat akan kebenaran.. malah kita digiring semakin menjauhi akan semua realitas kebenaran itu. sebab manusia dimasa depan hanya akan dimanjakan oleh robot AI sehingga manusia lalai dibuatnya dan lupa akan pencarian rahasia Tuhan sebelumnya
siapa yang tega melakukan ini semua?
apakah semua ini hanya klise?
mampukah kita sepenuhnya merdeka? (keluar dari dikotomi Tuhan) apakah ini yang dinamakan dunia paralel?(seperti di film-film fiksi Metaverse) atau mungkin ini hanya ilusi?
sayangnya homo sapiens hanya diberi dua pilihan sementara akan jawaban-jawaban dari semua pertanyaan yang hanya sebagian saya rangkum ini yaitu.. menunggu waktu menduga-duga jawabannya,
atau pasrah dan berkata “hanya yang diatas yang tahu jawabannya“.
by:@py