apatis, skeptis, dan kritis



selama ini aku mencoba diam melihat berapa suramnya sistem yg kerap ditawarkan mahasiswa2 yang kerap dianggap berintelektual oleh para juniornya…
pemikiran2 yang dianggap relevan diterapkan bagi mahasiswa masa kini saya rasa masih belum pas memenuhi setiap hegemoni pemuda sekarang
sistem2 kaderisasi diberbagai oraganisasi2 baik internal maupun eksternal tidak mencerminkan akan timbulnya seorang pembaharu nantinya
jujur…saya heran sama sekian banyak dan lamanya para senior2 bergulat di dunia kajian dan literasi tidak ada saya temukan konsep yg baru atau minimal berbeda pada sistem kaderisasi junior2nya atau maba yg bisa dibilang masih labil

sistem yg selama ini digunakan untuk mencetak kaum2 intelek juga tidak sepenuhnya buruk… buktinya tetap masih ada kok yg terbentuk namun sistem klasik seperti ini saya rasa susah atau sulit maksimal dalam mencapai tujuan lembaga atau organisasi tersebut

sejauh pengalaman saya berorganisasi saya merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini hanya itu-itu toh saja ibarat diam ditempat atau berlari di treadmil tanpa ada aktualisasi pikiran kedepannya akan bagaimana. ada sih…, tapi itu hanya sebatas memikirkan kepengurusan selanjutnya tanpa ada yang memikirkan apakah sistem ini masih relevan digunakan atau tidak

melihat pesatnya perkembangan arus globalisasi harusnya kalian yang katanya intelek itu mampu berimprovisasi dan berinovasi dalam menemukan ide-ide solutif dalam menjawab zaman

saya kerap mendengar omongan2 senior hampir di setiap lembaga organisasi mengatakan bahwa “kami tidak butuh kuantitas namun yg kita butuhkan adalah kualitas” kata2 seperti ini terkadang membuat saya tersenyum sendiri ketika mendengarnya
ya….saya akui hal tersebut ada benarnya namun saya kurang sependapat jika kualitas itu tidak dibutuhkan dalam sebuah lembaga… Masing-masing punya korelasinya tersendiri
dan menurutku dua-duanya itu penting

salah satu tujuan masuk sebuah organisasi adalah menjalin relasi namun terkadang arti ini sering disalah artikan atau disamakan dengan memperbanyak kawan atau bahkan pacar (ini yg parah)… namun hal seperti ini masih termasuk kewajaran bagi saya tetapi akan menjadi salah jikalau hal ini jadi tujuan utama kader untuk berlembaga sampai-sampai mengenyampingkan hal yang menjadi landasan dibuatnya sebuah organisasi “Aktif di organisasi hanya sebatas mengharapkan relasi tetapi kontribusinya minim adalah sebuah tercela dan wajib dijauhi… Ingat, Relasi tanpa Skill itu NOTHING”

bagiku yang mesti digaungkan dan diimplementasikan agar jadi fokus kita kedepan adalah bagaimana cara menjaga, merawat dan membangun kesetiaan baik calon kader ataupun kader itu sendiri terhadap organisasi sehingga menghadirkan manfaat nyata baik pada anggotanya maupun masyarakat dan negara

by:@Py

Tinggalkan komentar