Serpihan Memori

Pesan lima huruf yang kuterbankan dengan angin padamu
ternyata tidak hadir pada yang kutuju
sebab hujan telah lebih dulu mengetuk jendela kacamu
Air yang terpeleset dari genteng perlahan mulai melambat
suara bisik rintiknyapun mulai samar
meski langit masih menangis kecil
langkah kaki ini tak mau diajak kompromi
selalunya ingin bergerak menuntaskan niatnya
ah.. bilang aja tuannya yang mau hehe
meski jarak kerumahnya terbilang jauh
bagi pecinta itu hanya selangkah

sesampainya aku dirumahnya
seperti biasa aku disambut senyum tipis khas olehnya
dengan sebelah lesung pipi yang nampak samar dipipi kirinya
sambil memegangi payung hitam kecil
dia nampak sibuk mencari pasangan sandalnya yang diam-diam bersembunyi entah dimana
dan memintaku untuk menunggu sebentar
ah.. kebiasaan perempuan, (timpalku)

akhirnya kamipun beranjak
dengan diawali suara bising vespa tuaku
yang jarang dirawat tapi masih kuat jika diajak sekedar makan angin

namun sayang beribu sayang
Hari-hari yang harusnya kami lalui batal
sebab langit kian menampakkan wajah murungnya
dengan keadaan terpaksa kamipun memutuskan kembali
melupakan rencana awal yang telah dibuat jauh-jauh hari
mimik kekecewaan nampak diwajah
sembari berjalan pulang

hening menyelimuti sepanjang perjalanan sangat berbeda disaat pergi namun, tanpa aba-aba bibirnya bergeming
mengucap sepatah kata dengan nada jengkel
“harusnya ini tak terjadi… bagaimana kalau kita ngopi atau makan-makan dulu disana?” (sambil menunjuk kearah warung sederhana yang kebetulan dia langganan setia di warung itu) dan sontak aku langsung mengiyakannya.

tanpa basa basi dia memesan kopi hangat
dengan menunjukkan dua jari isyarat pada pemilik warung
sedikit sy heran sebab jarang-jarang ada cewek suka kopi hitam
tapi belakangan dia baru cerita bahwa ayahnya sering mrngajaknya ksini
yang awalnya hanya menikmati pisang goreng atau nasi bungkus
lama kelamaan dia jadi suka kopi hitam sama halnya kopi yang sering dipesan ayahnya
namun uniknya dia hanya suka kopi diwarung itu, ucapnya sambil tertawa

berhubung waktu kala itu sudah masuk jam makan siang
dan perut sudah mulai bergejolak entah dia bisa baca pikiran atau mendengar suara perutku
tina-tiba dia menawarkan makan nasi kuning mau?… (katanya sambil menyakinkan saya bahwa nasi kuning disini sangat enak)
lalu dengan tegas saya berkata “tidak!!!”
lantas dia heran berkata “kenapa?’
langsung saya berkata ” kecuali saya yang bayar”
sejenak dia terdiam lalu kembali tertawa
“haha kirain apa an… hedeeh”
“ok, kau bagian bayar nasinya, biar aku yang bayar minuman sama pisang gorengnya setuju?” sambungnya
“kalau kau ngotot, okelah!!” ucapku
lama kami diwarung itu
berbincang apa saja sembari menunggu hujan reda

"sayangnya hanya sampai disini serpihan memory (cerita) yang sanggup saya kumpulkan..." hehe

dua setengah tahun berlalu momen itu masih tersimpan
walau kini sudah berbentuk serpihan sebab terlalu banyak cerita sampai sebagian aku lupa
kucoba memungut dan menggalinya lagi
tetap hasilnya nihil apabila dirangkai dalam benak
oh iya… ada satu momen lagi yang buatku tersenyum
tatkala kau marah-marah pada lalat yang kerap hinggap dipipimu
ekspresi kesal tengil lugu dan polos itu
menjadi ciri khas tersendiri
yang sulit hilang dikepalaku ini
sehingga tak sulit mengingatmu
sebab yang kutau hanya kau yang kukenal memiliki sifat kekanak-kanakan unik itu
haha dasar
terakhir
semoga kelak kita kembali dapat ddipertemukan
“entah membahas masa lalu,
atau membahas masa depan”
….
ekhem

Tinggalkan komentar