Kala sore itu, didepan teras rumah minimalis terlihat seorang lelaki kurus yang lagi bergumam entah pada siapa, sebab yang duduk disampingnya hanya pot bunga berjejer rapi yang sesekali mengangguk terkena angin sepoi seakan asik berbincang dengan si pria tersebut. Pria dengan perawakan kurus dan rambut panjang terawat duduk dengan sarung yang masih saja dikenakan sehabis shalat azhar. Sepintas jika pertama melihat pria tersebut mungkin akan menganggapnya aneh sebab kebiasaannya berbincang sendiri dengan kedua tangan dibelakang menyangga tubuh ramping sembari mendongak menatap awan, entah apa yang lagi ia hayalkan.
Ibunya yang tentu sudah paham dan mengenal betul anaknya pasti tau betul anaknya sedang apa, makanya sering ibunya duduk mendengarkan dan meladeni cerita anaknya ketika lagi sendiri.
Anak yang sudah puber itu seringkali bercerita panjang lebar akan sesosok wanita yang ia cintai, bahkan sakin asiknya bercerita sampai keduanya kadang lupa waktu. Biasanya dipenghujung cerita ibunya tersenyum dan tak lupa menitipkan pesan pada anaknya sekedar mengingatkan bahwa “perihal wanita yang ingin kau jadikan pendamping hidupmu itu nanti ibu bantu”,.
Sambil tertawa dia membalas ucapan ibunya… “Bu, sesekali sematkan nama dia yah dalam doa ibu” ucap pria tersebut.