menurut data yg sudah ditetapkan sama pemerintah bahwa usia yang layak untuk menikah adalah 19 tahun dengan pertimbangan demi mengantisipasi masalah” yg akan timbul, namun pernyataan seperti ini itu terkesan terlalu formal bagiku sebab menganggap capaian kedewasaan ditentukan berdasarkan batas usia tertentu
bagiku kapan sebenarnya orang layak menikah itu tidak bisa ditentukan berdasarkan usia individu tersebut namun sampai dimana tingkat pemahaman atau pengetahuannya terhadap pasangannya, semakin layak dia mengenal pasangannya maka semakin layak dia bersamanya. misal ada orang yang berkata aku mencintaimu apa adanya, sampai mati aku mencintaimu dan masih banyak lagi pernyataan” bucin lainnya atau juga semacam pernyataan” yang blum layak secara mental misal “semua cowok sama saja, kenapa kamu mencintainya? gk tau nyaman aja, istri harus dinafkahi suaminya nah jika ada orang yang masih sering mengucapkan atau menjawab hal demikian bagiku mereka belum layak tuk menikah kenapa…? karena mereka belum mampu mengidentifikasi atau mengenal pasangannya
misal salah satu contoh pernyataan lagi seperti “kamu tidak seperti yang dulu lagi” sebenarnya bukan dianya yg tidak seperti yang dulu lagi tetapi orang yang mengatakan itulah yang sebenarnya sudah berubah sebab belum mengenal seutuhnya pasangannya dan masih banyak lagi contoh yang mana menandakan ciri orang yg belum layak nikah (baik secara mental maupun pengetahuan)
Nah kembali lagi ke perihal pertanyaan kapan nikah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti kapan nikah adalah salah satu contoh yang mungkin sebagian orang adalah momok yang menakutkan buat didengar langsung, (untungnya pertanyaan semacam itu belum pernah saya dengar secara serius disampaikan pada saya hehe….). Memang pertanyaan-pertanyaan seperti jika spontan ditanyakan orang pada kita untuk menjawabnya pasti ada jeda untuk sedikit banyak berfikir tuk menjawabnya, sebab ini bukan sesuatu yang mudah.
biasanya dalam menjawab itu orang mencoba berusaha mengalihkan topik atau mungkin menjawab seadanya atau dengan candaan misal “menunggu waktu yang pas”, “kerja, karir dulu baru menikah”, “belum ada yang cocok”, atau mungkin balik nanya seperti “kapan lo mati” hhh… dan masih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan begini itu terkadang bisa membuat kita emosi,marah atau kesal dan ujung-ujungnya buat kita jadi galau atau yang lebih parah depresi terutama yang jomblonya sudah karatan….hhh canda jomblo (ngatain diri sendiri)
Namun daripada galau dikarenakan tak kunjung ada pasangan… mending anda memanfaatkan momen kejombloan anda untuk belajar meratapi nasib,… eheh salah maksudnya belajar mengasah diri lagi. kalian pasti tidak inginkan jika masa-masa yang panjang setelah menikah nanti banyak masalah apalagi jika sudah punya tanggungan (anak), untuk jadi orang tua itu setidaknya anda memiliki pengetahuan yang mendasar dalam mendidik anak. asal kalian tau menurut survei sebanyak 73.5% orang tua Indonesia itu tidak mampu dalam hal mendidik anak sebab minimnya pengetahuan dari awal mendidik anak dan apa akibatnya? akibatnya anaknya baik IQ atau akhlaknya rendah
nah tentu jika sudah seperti ini orang tuanya sendirilah yang juga akan malu sebab salah dalam mendidik anaknya padahal justru masa-masa seperti itulah seharusnya anak mendapatkan perhatian ekstra orang tuanya karena bisa menentukan karakter maupun sifatnya masa depan dia kelak nanti bagaimana
contoh : orang tua yang pandai dan kurang pandai mengurus anak misal “jika ada anak yang menjatuhkan piring lalu pecah” orang tua yang kurang pandai melihat itu spontan marah dan sibuk memaki anaknya sebab menjatuhkan piring lalu pecah tetapi bedahalnya sama orang tua yang pandai mendidik anak, orang tua yang pandai tidak langsung menampakkan perasaan emosi pada anaknya dan malah tersenyum sambil mengajarkan secara halus bahwa “kalau membawa piring itu harus hati-hati” serta memberikan penjelasan padanya bahwa jika terus-terusan terjadi begini itu bisa-bisa membuat piring habis dan kalau habis adek jadi tidak bisa makan… iyakan (dengan nada yang lembut).
Tentu reaksi yang timbul pada kedua anak itu pasti berbeda dan yang mesti sebenarnya dijaga itu Psikologi anak sebab ini lagi-lagi bisa menyangkut masa depan si anak ini kedepannya seperti apa (karakternya). dan masih banyak lagi contoh tentang bagaimana cara yang baik dalam mendidik anak.(di google banyak kok….)
-kembali pasal jomblo
Nah kan…. sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dan berguna walaupun menyandang gelar jomblo, jangan salah… jomblo tidak selamanya jadi sesuatu yang buruk tetapi akan jadi hal buruk jika anda menyia-nyiakannya. maka dari itu manfaatkan momen kejombloan anda menghadapi masa-masa panjang yang menderita jika tak dipersiapkan sebelumnya (menikah)
mengutip lirik lagu ” cinta ini kadang tak ada logika” namun menikah diharuskan ada logika
jadi,kapan n̶i̶k̶a̶h̶ layak nikah?








